Menjaga Persaudaraan (2)

Dalam acara pulang kampung tahunan sewaktu bertemu dengan famili, tetangga atau teman-2 suasana selalu berbeda setiap tahun dan menemui hal-hal baru. Mulai dari kuliah, menikah, sunatan, dapat pekerjaan/sekolah baru, rumah pindah, menyekolahkan anak, tambah anak, dan jelas tambah tua he he he..

Hal yang tetap secara garis besar dalam obrolan hangat berkisar :

1. Cara masuk Perguruan Tinggi Negeri.

2. Bagaimana cara kuliah sambil kerja.

3. Tips menjadi pengusaha.

4. Titip anak biar mandiri.

5. Titip anak/saudara untuk kerja.

6. Bantuan modal untuk usaha.

7. Proposal untuk pembangunan atau rehab musola atau masjid.

Saya akan menulis singkat poin-poin diatas untuk renungan kita bersama, mohon maaf versi pendapat dan pengalaman pribadi.

-----------

Masuk Perguruan Tinggi Negeri

Cita-cita kuliah di PTN adalah cita-cita sebagian besar anak-anak SMA karena biayanya murah, Mbah Zaenal Abidin orangtua saya malah menyarankan ambil lokasi PTN yang jauh dari orangtua, famili, tetangga dan teman. Biar kuliah sambil jadi tukang becakpun atau sebagai buruh tidak ada yang tahu, kalau perlu kuliahlah di luar Jawa selorohnya.

Setamat MAN Pekalongan 1985 dengan pe-de daftar Teknik Sipil sekaligus Akuntansi Universitas Diponegoro dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ( STAN ) Jakarta, gagal alias tidak diterima. Akhirnya lontang-lantung di Jakarta, Bandung dan terakhir jadi bekerja buruh di pabrik tekstil Texmaco Jaya Pemalang selama 4 bulan.

Tiga bulan jelang SIPENMARU saya berangkat ke Yogya nebeng di kos-kosan Mas Nurkholis ( masih mahasiswa UII ) di Sapen GK45 belakang IAIN Sunan Kalijogo. Saya ikut bimbingan belajar termurah di Yogya yakni Teknik Gama dekat Tugu Yogya dengan jalan kaki 3 km pergi pulang, melemaskan otot kaki dan mengurangi pengeluaran. Juga ikut bimbingan belajar gratis dari PMKRI ( Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia ) di Asrama Kolombo, saya ikut belajar setelah mereka berdoa dan pulang sebelum mereka berdoa penutup. Itu hasil nego saya ikut bimbingan gratis, wong tidak disyaratkan harus pelajar kristen he3...( ngakali aturan ).

Alhamdulillah tahun 1986 diterima di dua PTN yakni Fak. Syariah IAIN Sunan Kalijogo Yogya dan Fak. Ekonomi Universitas Jember. Untuk pilihan jatuh ke Universitas Jember karena tempat inilah sesuai harapan Mbah Zaenal yakni jauh dari segalanya walaupun bukan luar Jawa he he he. Satu orangpun tidak ada yang dikenal di Jawa Timur.

Tiga tahun kemudian ( 1989 ) adik saya Abdul Kholik ke Jember ikut UMPTN, gagal. Setelah ikut bimbingan belajar termasuk bimbingan jualan koran untuk bekal kehidupan sehari-hari tentunya he he he, tahun berikutnya diterima di Fak. Ekonomi Unej.

Tahun-tahun berikutnya keponakan Farah Kholistiana dan Fahmi gagal masuk Undip Semarang, masa satu tahun digunakan sebaik-baiknya belajar di Jember akhirnya bisa diterima di Akuntansi dan Hukum di Undip sesuai dambaan mereka melalui UMPTN. Ikut jejak Om-omnya nganggur dulu.

Mereka test di Jember diterima di Semarang, kebalikan saya test di Semarang diterima di Jember.

Akhirnya jadilah semacam tradisi di keluarga Mbah Zaenal bahwa masuk PTN itu harus mengabdi dulu satu tahun untuk belajar lagi. Masuk perguruan tinggi yang murah biayanya butuh perjuangan dan doa seperti lagu Rhoma Irama ya.

Kuliah di swasta mahal Bro... kata anak-2 muda dulu


https://www.facebook.com/kholid.ashari.9/posts/pfbid029D1p8iBCb7R9biW9b1qM2tnCtXNVRhKZSH8mi6HBGg54eQ6Y3y2dbqNVBHsgq78xl