Kuliah sambil Bekerja, Kerja sambil Kuliah (2)
Sebagaimana tulisan sebelumnya bahwa proses awal keberhasilan kuliah sambil kerja dibutuhkan waktu 2 tahun. Satu tahun pertama menunggu sampai berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri seperti yang dicita-citakan, dan satu tahun berikutnya upaya untuk kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan hidup harian dengan pencarian peluang bekerja atau usaha agar kelangsungan kuliah bisa diwujudkan. Butuh kesabaran, usaha yang sungguh-sungguh, bekerja keras dan selalu tawakal kepada-Nya.
Sebelum menulis kiprah kuliah sambil bekerja sebagai penjual koran/majalah sampai lulus kuliah, ada baiknya saya harus menceriterakan kiprah adik-adik atau famili yang dititipkan kepada saya untuk dididik menjadi generasi mandiri dalam kuliah sambil kerja.
Ada si Fulan sebut saja namanya, dititipkan orangtuanya kepada saya untuk dididik agar bisa kuliah sambil bekerja. Keadaan ekonomi keluarga si Fulan jauh lebih memprihatinkan karena pas-pasan, saya optimis bisa punya spirit untuk maju dan menang. Setelah ikut jualan koran keliling seminggu di Jember, si Fulan angkat tangan dan pamit mau jadi buruh pabrik saja di Jakarta.
Ada si Paijo sebagai nama samaran, dititipkan kakaknya untuk bisa kuliah sambil bekerja. Selama seminggu di Jember keluar kamar kalau mau diajak makan, lucunya logat bahasa si Paijo berubah menjadi logat Betawi yang pengin menunjukkan warga Jakarta atau warga berkelas selama di Jember. Tidak mungkin saya ajak jualan koran/majalah keliling.
Si Wakidi ( nama samaran ) orangtuanya wanti-wanti untuk dididik agar berhasil, apa daya selama di Jember kebiasaan malam jadi siang dan siang jadi malam alias seperti jadi kelelawar. Setiap saya bangunkan siang hari jam 10.00 untuk menjemput rejeki, selalu menjawab masih ngantuk.
Juga si Ekspress ( sebutan samaran ) mulai diopeni mulai sekolah SMA dan digadang-gadang bisa meniru langkah saya dalam kuliah sambil usaha. Pagi hari sampai Jember dan saya ajak keliling kota untuk sekedar pengenalan lingkungan atau melihat kerasnya kehidupan. Ternyata malam hari tanpa pamit sudah lari terbirit-birit pulang ke Jawa Tengah dengan meninggalkan tas bawaannya. Sangat cepat sekali alias Ekspress.
Itulah Fulan, Paijo, Wakidi, Ekspress dan banyak nama-nama lain yang boleh dikatakan ekonomi keluarganya sama atau bahkan lebih rendah dari ekonomi keluargaku sewaktu saya SMA. Mereka sudah layu sebelum berkembang, mereka kalah sebelum bertanding atau apapun istilahnya.
Bagi saya mendorong mereka untuk maju ibarat mendorong sepeda/mobil. Kalau mendorong sepeda/mobil mogok masih lumayan bisa jalan kalau didorong sendiri atau ramai-ramai, lha kalau kondisi sepeda/mobil mogok dengan ban kempis apalagi tanpa ada isi bahan bakar tentunya tidak akan pernah bisa jalan. Bisa jalan namun harus diderek pakai katrol, dan kita tidak tahu sampai kapan he he he...
Dengan kondisi-kondisi seperti diatas maka saya selalu bingung sendiri kalau ada keluarga yang mau titip putra-putrinya untuk saya didik dengan harapan bisa mandiri dan kuliah. Serba salah kalau ditolak karena masih hubungan keluarga besar atau tetangga di kampung.
Beruntung saya punya adik-adik kandung yang mau ikut budaya nganggur dulu setahun, ikut jualan koran/majalah atau ikut usaha dulu, baru kuliah pada tahun kedua. Saya bisa mencicipi kuliah dan menjadi sarjana dari Perguruan Tinggi Negeri, demikian juga adik-adikku. Semuanya kuliah sambil bekerja.
Kami sangat bersyukur dan beruntung mempunyai orangtua Mbah Zaenal Abidin yang tahun 2017 ini berusia 91 tahun dan Mbah Suminah yang berusia 77 tahun masih sehat walafiat. Mereka sangat kaya akan ilmu dan kasih sayang, disiplin dalam beribadah, hidup dalam kesederhanaan dan selalu menganjurkan belajar. Waktu tidak boleh dibuang percuma, kenikmatan dari Gusti Allah harus dimanfaatkan.
Tulisan ini saya sertakan video Mbah Zaenal yang berpesan dan menganjurkan kita belajar mengajar yang diambil dari hadits yakni jadilah 4 ( empat ) orang yakni sebagai pengajar ilmu pengetahuan, atau pembelajar, atau pendengar ataupun pecinta ilmu. Silahkan pilih dari salahsatu atau semua empat pilihan, dan tidak ada alternatif yang kelima.
...tulisan bersambung besok ya...