Menjaga Persaudaraan (1)
Mudik indah dalam jalinan silaturrahim.
Alhamdulillah saya sudah sampai di Jember dengan selamat dengan perjalanan 2 hari karena setir sendiri, santai dan sedikit kena macet karena suasana arus balik lebaran terutama kemacetan Semarang dan Gringsing di pintu Tol darurat. Perjalanan Pemalang – Jember sejauh 630 KM, setara dengan Pemalang – Jakarta PP.
Ritual mudik tahunan bagi saya penuh makna. Silaturrrahim kepada orangtua, famili dan teman-teman merupakan kebahagiaan tersendiri. Suatu kenikmatan pula setelah bapak-bapak kita menggagas adanya Halal Bihalal satu keluarga besar yang disebut BANI. Biar kita tidak terlalu repot ketemu famili di keluarga besar. Ayo butuh waktu berapa untuk ketemu sekian puluh keluarga dan bahkan ratusan keluarga. Satu minggu tidak akan cukup waktu.
Ada keluarga Bani Tarisan di Desa Kandang yang merupakan keluarga besar bapak saya Mbah Zaenal Abidin, acara ini rutin mulai tahun 1988 atau sudah terlaksana 29 tahun. Ada juga Bani Maksudi di Desa Pesantren yang merupakan keluarga besar ibu saya Mbah Suminah yang punya acara tahunan mulai tahun 1989 atau sudah terlaksana 28 tahun. Acara halal bihalal Bani Maksudi Pesantren memang meniru yang baik dari tradisi yang dilakukan oleh Bani Tarisan. Tahun 1988 status saya masih kuliah semester 3 di Universitas Jember, tempat kuliah yang saya dapatkan dari hasil SIPENMARU ( seleksi penerimaan mahasiswa baru ) dari pilihan 3 dimana pilihan 1 Universitas Diponegoro Semarang dan pilihan 2 Universitas Pajajaran Bandung tidak diterima he he he.
Acara halal bihalal di Bani Tarisan saya absen sekali karena tuan rumah menggeser hari pelaksanaan kegiatan dari tanggal 2 Syawal menjadi 3 Syawal karena pertimbangan masih melaksanakan hajatan mantenan. Pada tanggal 3 Syawal pula saya harus ikut halal bihalal di Bani Maksudi Desa Pesantren. Acara dobel, saya pilih yang di Pesantren.
Dengan acara halal bihalal tanggal 2 dan 3 Syawal versi Pemerintah itulah saya bisa atur waktu berlebaran dengan keluarga istri di Banyuwangi Jawa Timur dengan cara selalu melaksanakan Sholat Idul Fitri di kediaman mertua. Setelah acara berkunjung ke famili dekat dan tetangga kanan-kiri maka jam 10 pagi berangkat ke Pemalang menempuh jarak 700 km berkendara, biasanya shubuh keesokan hari sudah sampai setelah menempuh perjalanan 18 jam. Perjalanan lancar karena berlawanan arah dengan para pemudik dari Jakarta.
Pada tanggal 4 syawal setelah hajat acara halal bihalal selesai, saya ajak keluarga bersantai-santai untuk wisata lokal Pemalang atau Tegal sambil menikmati makanan-makanan khas daerah. Barulah tanggal 5 Syawal pulang ke Jember dengan tetap wisata kuliner sepanjang perjalanan yakni Garang Asem Pekalongan, Lumpia Semarang, Soto Kerbau Kudus dan Ikan Asap Tuban. Wisata religi juga tetap bisa dijalankan yakni sholat di Masjid Demak yang terkenal dengan Soko Tatal dan Masjid Menara Kudus. Untuk oleh-oleh famili di Jember tentunya Ogel-ogel Pemalang atau Jenang Kudus